Tinjauan Buku: Menilik Cerita Tantri Dalam Kidung Tantri Kediri

 

Kajian atas teks-teks kidung dewasa ini masih tidak sepopuler kajian atas teks-teks dalam bentuk kakawin maupun macapat. Minimnya penelitian kidung sebagai bentuk syair Jawa kemungkinan disebabkan oleh penggunaan metrum tengahan dalam struktur kidung yang belum begitu diketahui. Penelitian tentang teks kidung yang tercatat oleh KITLV dalam seri Bibliotheca Indonesia hanya dua, yaitu Wa?ba? Wideya (Robson, 1971) dan Kidung A?li? Darma (Drewes, 1975). Dalam hal ini, hanya Robson yang menunjukkan ketertarikan atas kajian teks kidung. Adapun Drewes dalam penelitiannya lebih fokus pada pembahasan kisah Angling Darma dalam berbagai versi. Suntingan teks yang dikerjakan juga tidak disertai dengan informasi tentang metode penyuntingan sehingga kurang bisa dikatakan sebagai suntingan teks.

Revo Arka Giri Soekatno dengan hasil risetnya atas teks kidung Tantri Kediri turut menambah daftar penelitian atas teks-teks kidung. Hal ini patut diapresiasi mengingat masih minimnya penelitian tentang teks kidung. Terlebih lagi, Revo memfokuskan kajiannya pada kidung Tantri Kediri yang meskipun sama-sama merupakan gubahan dari teks prosa Tantri Kamandaka, namun tidak sepopuler kidung Tantri Demung.

Khazanah Cerita Tantri di Nusantara
Dalam khazanah cerita nusantara, cerita tantri (Tantri Kamandaka) merupakan salah satu yang terkenal sebagai cerita fabel. Label ini diberikan sebab isinya didominasi oleh dongeng-dongeng yang menempatkan hewan sebagai posisi sentral dalam cerita. Cerita ini diadopsi dari kumpulan teks berjudul Pañcatantra yang diperkirakan digubah di Kashmir, India pada abad-abad pertama Masehi oleh seorang brahmana bernama Visnusarman. Dalam buku berbahasa Sansekerta berjudul Tantrakhyayika yang dianggap sebagai redaksi Pañcatantra yang tertua (Klokke, 1993: 23-24), Pañcatantra terdiri atas lima bagian sebagai berikut:
1. Mitrabheda (Perbedaan Teman-Teman)
2. Mitraprapti (Datangnya Teman-Teman)
3. Kakolukiya (Peperangan dan Perdamaian)
4. Labdhanasa (Kehilangan Keberuntungan)
5. Apariksitakaritwa (Tindakan yang Tergesa-Gesa)

Pañcatantra merupakan salah satu karya sastra klasik yang luas persebarannya dan telah digubah serta diterjemahkan di seluruh dunia. Ada kurang lebih 200 versi dalam 50 bahasa yang tersebar dari Indonesia di ujung timur sampai Islandia di ujung barat Dunia Lama .

Cerita Tantri di Indonesia pertama kali dikemukakan pada tahun 1859 oleh Van Bloemen Waanders, asisten-residen Belanda pertama di karesidenan Buleleng, Bali (Van Bloemen Waanders, 1859: 150-154). Ia membuat daftar karya-karya sastra dalam bahasa Kawi salah satunya berjudul “Tantri Kamendaka”. Meskipun kurang begitu paham dengan isinya karena kurang menguasai bahasa Kawi, ia beranggapan bahwa karya sastra tersebut adalah Pañcatantra yang mirip dengan cerita “1001 malam”. Di Jawa, Tantri sudah dikenal pada paruh kedua abad ke-14 Masehi sebab telah disebut dalam kakawin Desawarnana/ Nagarakrtâgama karangan mpu Prapanca pada tahun 1930 berikut ini: “Tan tata tita tuten, tan tetes tan tut ing tutur, titik Tantri tateng tatwa, tutun tamtam titir titih” (Kakawin Nagarakrtagama 96.2). Penelitian tentang Tantri sebelumnya telah dilakukan diantaranya oleh Van der Tuuk (1881, 1898) , Juynboll (1907), Brandes (1915), Hooykaas (1929, 1931), Venkatasubbiah (1966), Pigeaud (1967), Zoetmulder (1983, 1995), dan Klokke (1993) . Selain peneliti di atas, ada dua peneliti lain yang turut memberikan sumbangan dalam hal penelitian tentang Tantri yaitu Artola dan Venkatasubbiah. George Artola (1957) pertama kali menemukan hubungan antara sebuah naskah Pañcatantra dari India Selatan, Tantropakhyana yang dianggap sebagai moyang dari teks Tantri Kamandaka . Adapun Ventakasubbiah dalam artikelnya (1965) merekonstruksi 16 sloka yang rusak dan tidak dapat dikonstruksi dalam edisi Hooykaas serta mencocokkannya dengan Tantropakhyana yang ditemukan Artola sebagai salah satu karya sastra yang berkaitan erat dengan Tantri Kamandaka.

Keistimewaan Kidung Tantri Kediri
Dalam khazanah sastra Jawa Kuna, Tantri Kamandaka ditemukan dalam tiga versi, yaitu satu versi prosa (TK-prosa) dan dua versi kidung: Kidung Tantri Demung (Td) dan Kidung Tantri Kediri (Tk). Dalam buku ini, Revo menyatakan beberapa keunggulan teks Tk sebagai objek kajian dengan pertimbangan diantaranya karena teks Tk tidak sepopuler Td dan belum pernah dibahas secara panjang lebar maupun diterbitkan sebelumnya. Revo mencatat bahwa jumlah teks Tk yang tersimpan di Leiden, Jakarta, Denpasar, Singaraja, dan Heidelberg hanya berjumlah 15 naskah. Jumlah ini masih jauh jika dibandingkan dengan teks Td yang berjumlah 65 naskah. Alasan lain adalah karena Revo menilai bahwa Tk masih sangat dekat dengan TK-prosa sehingga diharapkan kelak dapat membantu dalam memahami serta merekonstruksi sejarah penurunan TK-prosa maupun cerita Tantri secara umum. Selain itu juga mengacu pada masih jarangnya penelitian tentang kidung di samping teks ini memang menarik dari segi isi sebab sarat dengan pengaruh filsafat Hindu-Buddha.

Tk terdiri dari empat pupuh. Pupuh I adalah pupuh Kediri terdiri dari 106 bait ganda. Pupuh II dan III adalah pupuh Demung terdiri dari 49 bait dan 23 bait. Pupuh IV kembali berupa pupuh Kediri terdiri dari 334 bait.

Secara garis besar, Tk bercerita tentang seorang raja, Prabu Eswaryapala dari negeri Pataliputra yang setiap hari berkeinginan menikahi gadis yang berbeda-beda. Pada suatu hari, sudah tidak ada lagi gadis jelita yang bisa dinikahi. Hanya ada satu gadis yang masih tersisa yaitu Dyah Tantri, putri patih Nitibandeswarya, yang terkenal istimewa. Tantri bersedia dinikahkan dengan raja sebab telah bertekad untuk menyembuhkan kebiasaan buruk raja tersebut. Setiap malam, ia menceritakan fabel atau dongeng-dongeng hewan yang sarat akan kebijaksanaan dan ia sebut dengan “Cerita Tantri” (Tantrikata). Secara keseluruhan, ada total 30 cerita yang kesemuanya berupa dongeng hewan diantaranya yaitu Serigala dan Genderang, Dua Burung Betet yang Berbeda, Angsa dan Kura-kura, Kera yang Menari di atas Batu di tengah Lautan, Singa dan Kawan-kawannya, Sang Brahmana dan Seekor Harimau Mati, Hewan Lima Sekawan yang Saling Menolong, Raja Aridarma yang Mengenal Bahasa Hewan, dan lain-lain.

Catatan tentang buku
Sama halnya cerita Tantri pada umumnya, Tk terdiri dari cerita berbingkai yang berstruktur rumit. Maka dalam buku ini, Revo menyajikan 3 bentuk ringkasan sekaligus antara lain berupa daftar cerita, skema, dan ikhtisar teks untuk memudahkan pembaca dalam memahami cerita. Bentuk pertama disajikan berupa daftar cerita bingkai dan judul semua cerita fabel yang terkandung. Secara sekilas, bentuk pertama hanya berupa urutan cerita sehingga kurang nampak jelas bagaimana penyisipan cerita-cerita fabel pada cerita bingkai. Bentuk kedua berupa skema yang memuat tata letak cerita bingkai serta urutan semua fabel. Pada bentuk ini, pembaca lebih dapat memahami kapan cerita fabel mulai disisipkan dan kapan dikembalikan lagi ke bingkai utama. Bentuk ketiga merupakan bentuk ringkasan yang paling jelas yaitu berupa ikhtisar teks. Pada bentuk ini, ikhtisar disajikan secara singkat namun mendalam dan mendetail. Sisipan cerita yang rumit dan terkadang membingungkan pembaca juga diantisipasi Revo dengan pemberian beberapa tanda. Ia memberikan tanda panah ke kanan “ ” sebagai tanda penyisipan cerita dan tanda panah ke kiri ” ” sebagai tanda cerita sisipan berakhir dan kembali ke cerita bingkai. Tanda plus “+” juga dimanfaatkan untuk menandakan tingkatan cerita yang disisipkan dari bingkai utama.

Dalam suntingan (sebagai intisari buku), Revo menyajikan deskripsi atas naskah-naskah Tk, suntingan teks dalam bahasa Jawa Pertengahan, aparat kritik, terjemahan dalam bahasa Indonesia, serta komentar terkait pembahasan beberapa aspek teks. Sebelum melakukan suntingan, ia merunut dengan teliti hubungan antar naskah dengan memperhatikan penetapan varian bacaan yang signifikan, lakuna tekstual, serta interpolasi yang berpedoman pada salah satu bacaan wajib dalam ilmu filologi bahasa klasik Eropa yaitu buku Textual Criticism (Maas, 1955). Dalam hal rekonstruksi ini, ia menggunakan metode stemmatis seperti yang digunakan Gonda (1932) dalam merekonstruksi teks Brahmandapurana. Adapun dalam hal penyajian teks, ia menggunakan pedoman yang digunakan Teeuw dkk. (1969:59 dan 1981:53) dalam menyunting teks kakawin Siwaratrikalpa dan kakawin Kuñjarakarna.

Buku ini disajikan dengan format ilmiah meskipun juga tidak menutup kemungkinan bagi kalangan umum untuk turut membaca bagaimana rekonstruksi naskah serta suntingan yang dilakukan oleh Revo sehingga teks Tantri dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca pada umumnya. Namun lebih jauh lagi, saya membayangkan bahwa hasil riset dari buku ini atas cerita tantri versi kidung kediri nantinya dapat dijadikan bahan dan dialihwahanakan ke dalam media yang lebih populer seperti komik untuk dinikmati khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda. Cerita Tantri yang berupa cerita fabel ini tentu akan sangat menarik apabila didongengkan dan disajikan sebagai bahan bacaan anak-anak. Selain itu, di dalamnya memuat kebijaksanaan dalam kehidupan sehingga turut menambah bahan pembelajaran anak masa kini melalui fabel. Saya melihat cerita Tantri sebagai referensi cerita fabel lain bagi anak Indonesia sehingga fabel tidak melulu tentang cerita “Si Kancil Anak Nakal”, dan beberapa cerita terdahulu.

Penutup
Sebagai bacaan filologi, naskah ini cukup menarik untuk dibaca melihat sedikit paparan singkat di atas. Selain itu, buku ini sedikit banyak juga mengulas aspek-aspek linguistik tentang bahasa kidung dan Jawa pertengahan serta aspek kesusastraan. Apalagi jika kembali pada fenomena awal tentang masih sangat minimnya penelitian tentang teks-teks kidung, maka usaha Revo dalam penelitian ini sangat patut diapresiasi. Namun, hasil riset tentang cerita Tantri versi kidung kediri ini juga sangat berpeluang sebagai salah satu referensi bahan pembelajaran bagi anak. Tidak menutup kemungkinan bahwa buku ini akan dapat dijadikan landasan atau bahan untuk selanjutnya dialihwahanakan ke dalam media yang lebih populer seperti cerita bergambar atau komik. Dongeng-dongeng hewan (fabel) yang termuat di dalamnya seperti Serigala dan Genderang, Dua Burung Betet yang Berbeda, Angsa dan Kura-kura, Kera yang Menari di atas Batu di tengah Lautan, Singa dan Kawan-kawannya, Sang Brahmana dan Seekor Harimau Mati, dan lain-lain mengandung kebijaksanaan hidup yang baik untuk diajarkan kepada generasi muda salah satunya sebagai pembentukan karakter sejak dini. Melalui cerita-cerita tradisi semacam ini, anak juga secara tidak langsung akan turut mengenal budaya sendiri. Dengan demikian, akan ada korelasi antara penelitian sastra kuna dengan pemanfaatannya dalam hal pembelajaran dan pendidikan di zaman sekarang.