Usadha: Ilmu Pengobatan Ayur Veda Bali

Arti Usadha dan Ayur Veda
Usadha
Kata usadha secara etimologis berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu: usadha, yang berarti obat (Zoutmulder,2006:1350). Kata usadha digunakan untuk pengganti kata osadha/ausadha, dan berupa kata pungutan yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tumbuhan ramuan bumbu digunakan untuk obat-obatan (Zoutmulder& Robson, 2006:721). Kata Usadha inilah yang kemudian menjadi kosa kata bahasa Indonesia dan juga bahasa Bali, yang berarti ilmu pengobatan (Tim Penyusun Kamus Bali-Indonesia, 2007:176, Tim Prima Pena, tt:667). Usadha bagi orang Hindu Bali diartikan sebagai naskah lontar atau buku yang memuat tentang ilmu pengobatan dan nama tumbuh-tumbuhan untuk obat. Namun demikian, ada pula Usadha yang tidak berisikan tentang ilmu pengobatan, yaitu “Usadha Budha Kecapi Cemeng”. Usadha ini berisikan tentang filsafat/tatwa kamoksan.

Jirnaya (211:271) membedakan Usadha menjadi 4, bila dilihat dari bentuknya.
a. Berbentuk kumpulan sarana obat dan pengobatannya.
b. Berbentuk pengobatan dengan pecaruan.
c. Berbentuk ciri (tetenger) dan pengobatannya.
d. Berbentuk naratif.

Ada Usadha dalam bentuk lain, yaitu berbentuk filsafat/tutur untuk mencapai kalepasan atau kamoksan. Dengan demikian, Usadha bila dilihat dari isinya dapat dibedakan menjadi:
a. Berisi kumpulan obat-obatan dan pengobatan.
Contohnya: “Usadha Taru Pramana”, “Usadha Buduh”,”Usadha Edan”, “Usadha Buh” dan sebagainya.
b. Berisi pengobatan dengan pecaruan (suguhan sesajen) dan mantra-mantra. Contohnya: “Usadha Punggung Tiwas”, “Usadha Kacacar”, “Usadha Cukil Daki” dan sebagainya.
c. Berisi cerita naratif, diagnosis (tetenger) penyakit dan pengobatannya.Contohnya: “Usadha Budha Kecapi Sari”.
d. Berisi cara pembuatan racun/penyakit dan pengobatannya.Contohnya: “Usadha Cetik” dan “Usadha Maya”
e. Berisi filsafat/tatwa tentang tata cara mencapai kamoksan/kalepasan.Contohnya: “Usadha Budha Kecapi Cemeng” dan “Usadha Jong Biru”
f. Berisi cara pengobatan dengan pemanasan dan pijat. Contohnya: “Usadha Pranawa” dan“Usadha Uut”.

Ayur Veda
Ayur Veda bermakna sesuatu yang berhubungan dengan baik-buruk, bahagia atau tidak bahagianya sebuah kehidupan, faktor-faktor yang menyebabkannya dan yang tidak menyebabkannya, cara-cara menilai/mengukur tingkat kesehatan dan pengetahuan tentang alam (yang membantu kesehatan) (Caraka dalam Dash & Suhasini Ramaswamy, 2006:1).

Nala mengatakan bahwa Ayur Veda terdiri atas kata ayur atau ayus yang berarti hidup, vitalitas, kesehatan, atau usia lanjut. Sedangkan kata veda berarti ilmu pengetahuan. Jadi Ayur Veda berarti ilmu pengetahuan tentang upaya manusia agar dapat hidup sehat sampai usia lanjut (Nala,1993:27).Selanjutnya dikatakan bahwa Ayur Veda banyak mengulas tentang sistem pengobatan tradisional dan alamiah (naturalis), dimana sistem pengobatannya sangat tergantung kepada penggunaan air, ramuan tumbuh-tumbuhan, mineral dan asam formiat yang berasal dari sarang semut. Beberapa obat ini ada yang mempunyai nilai terapetik yang tinggi, namun sebagian besar hanya mengandalkan kekuatan magis simpatetik (rohani) saja. Ilmu bedah juga disinggung di dalam Ayur Veda.

Ayur Veda menekankan pencegahan penyakit dan terapi pengobatan bersamaan dengan berbagai metode pembersihan. Ini berarti Ayur Veda;

a. lebih dari sekedar sistem pengobatan,
b. berupa ilmu dan seni untuk hidup yang benar, dan
c. membantu mencapai umur panjang.

Sehat adalah harmoninya raga, pikiran, dan jiwa seseorang. Sakit adalah tidak harmoninya ketiga komponen itu. Bila manusia raganya tidak seimbang, atau pikirannya stress, atau jiwanya tertekan, maka akan ia akan sakit. Untuk itu manusia sebagai prakrti perlu tahu ilmu tentang hidup. Ilmu tentang hidup bisa dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. Ayur Veda, memusatkan perhatiannya pada yang lahiriah/raga. Maksudnya adalah, mengamati gangguan dalam pikiran dan rohani seseorang dari sudut keadaan lahiriah badannya. Bila ketiga unsur yang ada dalam badan seimbang (Tri Dhatu), maka ia akan sehat. Bila tidak seimbang (Tri Dosha) maka ia akan sakit. Dalam Ayur Veda ditekankan pentingnya aliran teratur input berupa makanan lahiriah, dan output berupa pengeluaran sampah lahiriah.
b. Yoga, memusatkan perhatiannya pada rohani atau jiwa manusia untuk mendorong fisik dan pikirannya sejalan agar tercipta harmoni. Pusat perhatiannya adalah pada makanan rohani dan sampah rohani.
c. Tantra, memusatkan perhatian pada mental/pikiran. Tantra bekerja untuk memaksimalkan kekuatan jiwa. Kekuatan jiwa ini akan menyeimbangkan serta membuat badan dan jiwa menjadi harmoni. Jadi pusat perhatiannya adalah pada makanan pikiran dan sampah pikiran.

Usadha Merupakan Ayur Veda Bali
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Usadha merupakan ilmu pengobatan tradisional Bali. Dalam Usadha terkandung tata cara pengobatan tradisional, yang hanya mengandalkan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan atau unggas, air, udara, permata dan dengan sesajen. Ini berarti Usadha sama dengan Ayur Veda. Keduanya menyatakan bahwa kesembuhan bukanlah disebabkan oleh Balian (manusia), tetapi oleh alam atau energi yang lebih tinggi. Lontar Usadha di Bali isinya diambil dari pengethuan pengobatan di India (Nala, 1993: 18). Namun demikian dalam beberapa prinsip pengobatan dalam Usadha ada pengaruh pengobatan Cina dan Arab. Contohnya seperti: “Usadha Bun Ong Hwa”, “Usadha Sasak”, dan “Usadha Selam”.

Ayur Veda memiliki delapan cabang pengobatan seperti: pengobatan (1) intern, (2) bedah, (3) mata-telinga-hidung-tenggorokan, (4) anak-anak dan kebidanan, (5) ilmu racun (toxicology), (6) ilmu jiwa (psychology), (7) peremajaan (rejuvenation), dan (8) ilmu membuat bergairah kembali (virilization).

Dalam lontar Usadha, pengobatan dengan tehnik pembedahan seperti yang ada di dalam Ayur Veda, rupanya tidak dikenal. Kenyataan ini menandakan bahwa Ayur Veda yang sampai ke Bali kemungkinan adalah Ayur Veda yang sudah dipengaruhi perkembangan agama Buddha., sebab setelah Ayur Veda di pengaruhi oleh agama Buddha di India, pengobatan dengan cara pembedahan kurang populer lagi. Selain itu, ilmu peremajaan (rejuvenation) juga tidak dikenal dalam lontar Usadha di Bali, walaupun dalam praktiknya ilmu ini ada.

Balian Bali
Balian merupakan nama julukan bagi orang yang menjalankan pengobatan tradisional atau perdukunan di Bali. Istilah Adedukunyang ada di dalam naskah lontar diartikan dengan, orang yang melakukan pekerjaan mengobati. Di Bali adapameo: malianin, mealian dan maliin.Malianinberarti mengamalkan ilmu untuk mengobati. Mealian berarti mencari keuntungan atau mencari kekayaan. Maliin berarti mencicipi, mencoba dan merasakan. Di dalam Usadha disebutkan bahwa, malianin atau menjadi balian/dukun harus memahami falsafah pedukunan yaitu:

wruh ring patikelaning genta pinara pitu mwang sastra sanga, wenang pwa sira ngusadhanin. Yan nora samangkana, mealian mwang maliin pwasira. Katemah pwa sira dening Sang Hyang Aji Saraswati. Mungpang laku salampahira. Jatasmat.

Artinya:
mahir akan kelipatan suara genta yang berlipat tujuh dan sembilan sastra/aksara (SA. BA. TA. A. I. NA. MA. SI. WA.YA) bolehlah engkau melakukan pengobatan. Bila tidak seperti itu, pencari keuntungan atau dukun cabul kamu. Dikutuk kamu oleh Sang Hyang Aji Saraswati. Sengsara seumur hidupmu. Semogalah.

Balian/dukun dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Balian pengembang roh
2. Balian pengemban roh.

Balian Pengembang Roh
Balian pengembang roh dimaksudkan adalah, balian yang belajar tentang ilmu pengobatan dengan menekuni Usadha, tatwa atau pun filsafat kerohanian. Mereka belajar agar roh pribadinya berkembang. Mereka tidak perlu memohon bantuan kepada roh lain yang dipercaya ada di sekitarnya, karena roh-roh tersebut dianggap lebih rendah kedudukan dan kemampuannya di bandingkan dengan rohnya sendiri. Balian seperti ini percaya bahwa rohnya sendiri (Manusa Saktinya) memiliki kedudukan sangat tinggi yang hanya berbataskan setebal kabang salak dari Ida Hyang Widhi (ah?l?tan k?lir pr?bedanya dening Sang Hyang Jagat Karana). Tidak ada satu kekuatan dan kemampuan yang bisa menyamai Manusa Saktinya itu, kecuali Tuhan. Dalam menjalankan pengobatan, Balian seperti ini lebih mengutamakan logika/pikiran dibandingkan perasaan. Mereka dengan tekun melatih penunggalan bayu sabdha idep untuk membuka cakra yang ada di tubuhnya.Yang dimaksud dengan bayu adalah bernapas dengan melakukan Pranayama (pengaturan keluar masuknya napas dari hidung). Sabdha maksudnya adalah suara atau ucapan, sedang idep maksudnya adalah rasa dan pembayangan/visualisasi atau penggambaran.

Sebagai contoh: ketika melakukan penarikan napas, napas yang masuk ke hidung bersuara nyaring yaitu suara “ONG…..” (agak panjang suaranya sampai penarikan napas dihentikan). Pembayangannya/visualisasinya adalah dengan membayangkan bahwa udara yang ditarik berwarna biru seperti langit, karena langit tidak lain adalah kumpulan udara. Pembayangan rasa, adalah rasa sejuk/dingin. Kemudian udara ditahan di pusar. Pada saat penahanan napas tentu akan ada suara, karena udara berputar-putar di dalam diafragma. Suara udara berputar adalah “Err……”. Karena berputar udara akan panas rasanya dan harus divisualisasikan dengan api panas berwarna merah yang berputar searah jarum jam. Terakhir, udara dikeluarkan dari hidung, namun divisualisasikan napas ke luar melalui ubun-ubun. Suara napas keluar adalah “ANG….”. Di ubun-ubun visualisasi napas yang keluar berwarna putih atau merah yang mengelilingi tubuh dan rasanya hangat. Begitulah salah satu cara mengembangkan roh pribadi menurut lontar Usadha Jong Biru (4 b). Cara ini disebut langkah awal menuju pembukaan cakra. Agar roh pribadi balian ini berkembang dengan baik, Balian haruslah rendah diri, santun, tidak mempunyai pamrih dan tekun melakukan yoga.

Selanjutnya agar ketujuh cakra berkembang maka, maka dilanjutkan dengan pengucapan Sapta Ongkara. Sapta Ongkara yang dimaksud adalah; pengucapan Aksara Suci Om masing-masing cakra yang jumlahnya tujuh cakra. Mantra pembuka masing-masing cakraadalah sebagai berikut:

Grim, lambang suara Muladhara Cakra, terletak di dasar tulang ekor;
Aim, lambang suara Swadhistana Cakra, Terletak di depan limpa kecil;
Prim, lambang suara Manipura Cakra, terletak di pusar/solar pleksus;
Klim, lambang suara Anahata Cakra, terletak di depan jantung;
Hrim, lambung suara Visudha Cakra, terletak di depan tenggorokan;
Strim, lambang suara Ajna Cakra, terletak di antara kedua mata, dan
Triam, lambang suara Sahasrara Cakra, terletak di atas kepala.

Di dalam lontar “Usadha Jong Biru” dan lontar “Pangiwa Brahma Kusuma Sari”, istilah cakra disamakan dengan kata windu. Terdapat tujuh windu di dalam diri manusia.

Dalam “Usadha Maya”, mantra ke tujuh windu tersebut (lihat tabel), dinamai Sapta Pataka. Mantra ini harus diucapkan sebagai pembuka cakra sambil melakukan pengaturan napas (Pranayama).

Balian Pengemban Roh
Balian pengemban roh maksudnya adalah balian yang menggunakan kemampuan/kekuatan roh lain selain rohnya sendiri dan Roh Agung/Ida Hyang Widhi Wasa. Balian jenis ini bergantung kepada roh pembimbing dalam setiap melakukan pengobatan. Apa pun hasilnya tergantung kepada kemampuan roh pembimbingnya. Balian ini bisa saja merupakan Balian Ngiring, Balian Pangiwa/Panengen/ Pregolan, Balian Katakson, Balian Sonteng/ Koneng, Jero Dasaran dan Balian Kapican.

Di samping penggolongan di atas, ada juga yang menggolongkan balian atas dasar tujuannya, yang dibedakan menjadi dua yaitu: balian pengiwa dan balian penengen.

Balian Pangiwa
Balian Pangiwa adalah balian yang kesehariannya menggunakan roh yang ada dalam mantram pangiwa. Contohnya “Pengiwa Batur Kalawasan”. Balian yang mengemban roh “Pangiwa Batur Kalawasan” akan selalu mohon bantuan kepada roh pengiwa itu. Kata pengiwa merupakan kata jadian, yang kata dasarnya adalah kata kiwa, yang berarti kiri. Dalam lontar “Pangiwa Siwa Genggong”, kata kiwa terdiri atas dua kata yaitu kata ki dan kata wa. Kata ki merupakan partikel di depan kata kata benda yang menunjuk orang laki-laki. Biasanya orang yang lebih tua atau orang yang dihormati (Zoutmulder & Robson, 2006:497). Kata ki juga berarti bayu/ angin/tenaga. Sedang kata wa berarti galang/ terang bara pijar, potongan bahan panas yang menyala (Zoutmulder,2006:1361). Jadi kiwa berarti: bara panas yang dihormati, tenaga panas atau napas yang menyebabkan bara panas yang terang dan diagungkan untuk menuju kalepasan. Kata kiwa kemudian mendapat prefik nasal dari konsonan [ k ] dalam bahasa Bali, yaitu ng-, sehingga kata kiwa menjadi ngiwa. Prefik nasal ng berarti: melakukan pekerjaan sesuai kata dasar. Ngiwa berarti melakukan pekerjaan kiwa/kiri. Bisa juga berarti melakukan kalepasan/moksa. Kata ngiwa dalam bahasa Bali juga bisa berarti serba bisa. Tukange anak ya ngiwa. Artinya, tukang itu serba bisa. Sampine ngiwa, artinya sapi ketika digunakan membajak sawah, bisa menempati posisi di kanan dan bisa di posisi kiri. Pandangan yang menganggap Pangiwa adalah ilmu jahat atau jelek adalah pandangan yang keliru. Begitu pula pandangan yang mengatakan bahwa Panengen itu ilmu yang selalu melaksanakan kebaikan, juga keliru. Baik ilmu pengiwa maupun penengen bisa digunakan berbuat baik ataupun jahat.Lontar Pangiwa sangat banyak jumlahnya. Beberapa di antaranya seperti: Pengiwa Taya Murti,“Pangiwa Brahma Kusuma Sari”,“Pangiwa Brahma Sapuh Jagat”,“Wisnu Krodha”, “Papak Sangkur”,“Bramana Lare”,“Jaka Punggul”,“Geni Murti”,“Buta Siu”,“Batur Majapahit”,“Siwa Murti,Taya Murti”,“Siwa Genggong”,“Kresna Taya Murti”,“Batur Kalawasan” dan masih banyak nama pangiwa yang lain. “Pangiwa Brahma Kusuma Sari” merupakan satu-satunya Pangiwa Kadharman.

Dalam lontar itu disebutkan:

Iki dharmaning pangiwa, “ngaran kaputusan Brahma Kusuma Sari. Tan w?nang pwa sira amati-mati, mangang?nak?n wang baneh dening manah krodha, ila-ila dahat, tan siddhi palania, papa neraka kat?mu dlaha, jatasmat!.

Artinya:
Inilah pangiwa bersifat mulia/bajik. Bernama Pangiwa Brahma Kusuma Sari. Tidak boleh membunuh (berperang), memikirkan orang lain dengan pikiran marah. Berbahaya itu. Tidak berhasil kamu.Kesengsaraan dan nerakalah akan diketemukan pada kemudian hari, semogalah!.

Balian Panengen
Balian Panengen adalah balian yang kesehariannya menggunakan bantuan roh panengen. Roh panengen dipanggil dengan menggunakan mantra panengen. Di atas telah disinggung bahwa panengen tidak semuanya baik. Ada mantra-mantra atau Keputusan Panengen yang khusus bisa digunakan untuk memagari diri atau membencanai orang. Contohnya: “Penengen Ki Biuk Rimpung”, “Penengen Jagat Bega” dan lain-lainnya. Sebagai bukti dapat disebutkan disini adalah adanya mantra “Penautan Ki Biuk Rimpung”, mantra “Pangerep Jagat Bega”, Mantra ‘Pangrusak Panengen’ mantra ‘Panguug Bayu’, ‘Pangrancaban Panengen’, dan masih banyak yang lain.Kata panengen berasal dari kata dasar tengen atau dengen. Kedua kata ini memiliki arti berbeda. Kata tengen berarti kanan. Sedangkan kata dengen berarti angker, keramat, dan roh jahat. Kedua kata tersebut bila ditambahkan dengan prefik nasal, akan menjadi kata nengen yang berarti: bersifat menyeramkan atau dengan/di- kanan. Contoh pemakaian dalam bahasa Bali:Baliane ento nengen, artinya, Dukun itu menggunakan ilmu Panengen.Bes nengen sebeng jalemane ento, artinya: Terlalu seram raut muka orang itu.Upacara madengen-dengen, artinya melakukan upacara perkawinan di depan Sanggah Kemulan untuk pengesahan perkawinan (niskala) dan mohon keselamatan (Tim Penyusun, 2009:159-160).Kata nengenkemudian mendapat prefik pa- menjadi panengen. Arti prefik pa- dalam bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali adalah perihal seperti yang disebut oleh kata dasar. Artinya: yang posisinya di kanan, alat/cara agar seram, atau alat untuk menjadikan agar berwibawa/seram.

Penggolongan balian atas dasar tujuan seperti di atas, (Lihat Nala, 1993: 114) dirasa kurang tepat bila dikaitkan dengan: tujuan baik dan tujuan jahat. Sebab kedua ilmu tersebut, baik ilmu pengiwa maupun ilmu penengen keduanya sama, tergolong ke dalam ilmu kawisesan dan bukan ilmu kasantikan (Dharmaning kadharman). Maksudnya, keduanya bisa digunakan untuk kebaikan maupun untuk kejahatan.Menurut hemat penulis, ilmu kebatinan dan perdukunan di Bali bila dilihat dari sifat dan tujuannya, dapat digolongkan menjadi dua yaitu:

a. Kasantikan. Santika berarti memiliki sifat damai. Kasantikan berarti golongan ilmu yang mengutamakan kedamaian atau kedarman. Ilmu golongan ini sering disebut dengan “Dharmaning Kadharman”
b. Kawisesan. Golongan ini bisa dibedakan menjadi 2 yaitu: UlahingKaparamarthan (olah pisik) dan Kadiatmikan (olah batin). Kadiatmikan bisa dibedakan menjadi 3, Pangiwa, Panengen dan Pregolan.

Elemen-elemen dasar Usadha
Pengetahuan Usadha merupakan cabang filsafat Bali yang berakar kuat pada budaya Jawa Kuno dan budaya India (Ayur Veda). Di dalamnya terkandung keuniversalan pemikiran yang cukup luas. Usadha/Ayur Veda Bali merupakan ilmu pengobatan berdasarkan respon manusia pada lingkungannya.

1. Pendekatan yang bersifat universal menekankan pada pemakaian dan relevansi pada hal-hal yang bersifat universal, terlepas dari batasan geografis, perbedaan agama/paham dan etnis. Usadha sebagai manifestasi Ayur Veda di Bali, merupakan ilmu pengetahuan yang tersusun dari prinsip-prinsip rasional dari fisiologi, pathologi, pharmakologi dan diagnose, yang telah lama berkembang, teruji, sistematis dan tergeneralisasi berdasarkan prinsip-prinsip pengetahuan logis.
2. Usadha percaya bahwa fungsi-fungsi tubuh memiliki keterkaitan yang sangat erat/padu dengan jiwa dan pikiran manusia. Tubuh dibedakan menjadi dua yaitu: Stula Sarira (badan kasar) dan Suksma Sarira (Badan halus). Idealnya, tubuh (Stula Sarira) seharusnya terbebas dari penyakit, pikiran gembira, perasaan bahagia dan jiwa (Suksma Sarira) yang bersih/suci. Oleh karena itu manusia diwajibkan mengenal dirinya sendiri, sebagai upaya mencapai keharmonisan hidup (wruhakna sariranta). Dalam menentukan polaq makan, obat-obatan dan terapi, Usadha berorientasi pada pengetahuan bahwa jiwa, pikiran sama halnya dengan badan.
3. Penyakit manusia disebabkan oleh dua factor yaitu: faktor utama dan faktor kedua. Faktor utama berupa kekacauan unit-unit dasar dari pada pisik/tubuh manusia yang disebut TriPramana, yaitu: angin, air dan api. Ayur Veda menyebut dengan istilah dosha yang berjumlah tiga yaitu: vayu, vita dan kapha.Ketiganya ini merupakan elemen-elemen dasar berupa kekuatan yang diserap dari alam melalui panca indra manusia. Faktor kedua adalah organisme penyebab penyakit (virus?) dan kuman. Kedua faktor ini ada di dalam tubuh manusia. Manusia harus menjaga keseimbangan ketiga elemen dasar itu (Tri Dhatu) di dalam tubuh. Bila kesimbangannya terjaga dengan baik (Tri Dhatu), maka hidup sehat pasti dialami. Betapaun kuatnya bibit penyakit yang menimpanya tidak akan menyebabkannya sakit.
4. Obat-obatan teridiri atas bahan-bahan tumbuhan, binatang, logam, mineral dan batu-batuan. Bahan-bahan seperti itu diolah sedemikian rupa agar menjadi obat dan bukan racun. Sebab racun di dalam Usadha beda tipis dengan obat. Usadha tidak menggunakan bahan sintetis. Obat-obatan di dalam Usadha bukan saja sifatnya mengobati. Tetapi juga merangsang organ tubuh agar memiliki kekebalan tubuh.
5. Pengobatan dalam Usadha lebih ditekankan kepada pasien dibandingkan dengan penyakitnya. Orang-orang yang memiliki penyakit yang sama, bisa berbeda cara penanganan pengobatannya. Seorang penyembuh yang ahli dalam Usadha, akan memberikan pengobatan kepada setiap pasiennya, tergantung kepada hal-hal yang dominan yang berpengaruh pada pasiennya, di samping tingkat kondisi batinnya.
6. Usadha beranggapan bahwa alam bisa dibedakan menajadi dua yaitu: Buana Agung (makrokosmos/alam semesta) dan Buana Alit (mikrokosmos/tubuh manusia). Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Apapun yang ada di Buana Alit pasti ada di Buana Agung. Begitu juga sebaliknya. Seluruh elemen yang ada di alam bisa ditemukan di dalam tubuh manusia. karena elemen-elemen tubuh manusia berasal dari alam.
7. Usadhaatau Ayur Veda Bali merupakan ilmu penyembuhan yang ramah lingkungan. Usadha merupakan pengetahuan yang bisa membuat individu mampu hidup secara harmonis dengan alam sekitarnya. Pemakaian bahan-bahan obat secara alami, sebatas yang diperlukan, dan tidak akan merusak alam.

Unsur-unsur alam pembentuk Stula Sarira
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Buana Alit/tubuh manusia memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Buana Agung/alam semesta, karena tubuh manusia bersumber pada alam. Semua materi dan bentuk kesadaran” yang ada dan melekat padanya, baik halus maupun kasar, dicirikan oleh tiga komponen yang disebut “Tri Guna”. Tri Guna adalah tiga komponen seperti: satwam, rajas dan tamas. Satwamadalah kesadaran. Rajas adalah energy dan dinamisitas, dan tamah adalah hal yang berhubungan dengan kala, kekebalan dan kestabilan. Komponen ini selalu ada baik di alam semesta maupun di dalam tubuh manusia. Energi apaun itu, sedinamis apaun ia, akan selalu berhubungan dengan rajas. Benda materi apapun itu, kekebalan yang bagaimanapun serta stabil-tidaknya hal itu akan terkait dengan tamas. Segala manifestasi dari kesadaran akan disebabkan oleh sattwam. Bagi seorang penyembuh Usadha, pemahaman ini penting agar bisa dipahaminya konsep-konsep usadha yang beragam.

Tubuh manusia tersusun dari lima lima lapisan yang disebut Panca Koshika, seperti:
(1) Anamaya Kosha, artinya: tubuh pisik
(2) Pranamaya Kosha artinya: tubuh astral, energy atau perasaan individu
(3) Manomaya Kosha, artinya: jiwa/hati ataupikiran individu
(4) Wijnanamaya Kosha, artinya: intelektualitas dan
(5) Ananmaya Kosha, artinya: lapisan kebahagiaan.

Anamaya Kosha atau lapisan tubuh pisik juga tersusun dari zat Pañca Mahabhuta atau lima unsur alam. Unsur-unsur tersebut adalah: pratiwi/tanah, jala/air, agni/api, bayu/udara dan akasa/eter/gas. Bila nanti orang meninggal, kelimanya ini akan kembali ke alam.

Di dalam usadha, kelima unsur fisik ini dikaitkan dengan lima unsur penting di dalam tubuh dan disebut dengan Panca Mahabhuta. Unsur zat Panca Mahabhuta yang dimaksud seperti uraian di bawah.

Keberadaan manusia dapat diketahui secara pasti melalui tindakan/aktivitasnya. Dalam Usadha atau Ayur Veda, kesemua fungsi pisik dan kejiwaan individu manusia dikendalikan oleh angin/vata, air/pitta dan api/kapha, (Tri Dhatu). Bila ketiga unsur tersebut tidak seimbang (disebut Tri Dosha), atau salah satunya memurti (meningkat) di dalam tibuh maka akan menyebabkan terjadinya penyakit. (Lad & Robert E.Svaboda,2000:77).

Vayu/angin atau vata bersifat manis, ringan, dingin, dan bergerak sebagai pelopor semua pergerakan di dalam tubuh, termasuk semua fungsi saraf. Gangguan yang bisa terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan angin (bayu mamurti) seperti: rasa sakit, kaku, lumpuh, tekanan darah tinggi dan gangguan jantung. Unsur angin ini memuncak akibat adanya pengekangan dan penindasan keinginan alamiah. Begadang hingga larut malam, terlalu banyak bicara keras, terlalu lelah, terlalu banyak makan makanan pedas dan tajam, menelan makanan tanpa dikunyah/kurang lumat dikunyah, rasa takut berlebihan, marah, dendam dan cemas.Inilah akibat unsur angin yang meningkat. Di Bali unsur vayu meningkat saat mulai musim penghujan (Sasih Kalima, Kenem, Kapitu, Kawulu).

Api atau pitta (cairan empedu) adalah cairan yang bersifatpanas, asam dan tajam. Pitta membentuk enzim-enzim dan hormon-hormon. Inilah yang merupakan penyebab ada-tidaknya gangguan pada sistem pencernaan, pigmentasi, suhu tubuh, rasa lapar, haus, ndapandangan mata. Terdapat banyak gangguan yang disebabkan oleh meningkatnya unsur ini (Pitta murti/Geni mamurti) seperti: rasa panas, radang tenggorokan dan saluran pernapasan, suhu tubuh naik (demam), pecah otot/bercak kebiruan pada kulit, sakit kuning/lever dan tumor/kanker (buh dan badasa). Unsur ini meningkat jika terlalu makan makanan yang asam, minum alcohol, makanan terlalu asin dan makanan yang ada racunnya/cetik. Penyebab lain seperti, kemarahan, sinar terik matahari dan hawa panas api yang berlebihan, kelelahan, makanan basi/expired dan kebiasaan makan yang tidak teratur. Di dalam Usadha dikatakan : Merta matemahan wisia, artinya makanan berubah menjadi racun. Unsur pita meningkat ketika musim dingin (di Bali pada sasih Jyestha, Asadha, Kasa dan Karo).

Air atau kapha (lendir) bersifat manis, halus/lembut, kuat, padat, dingin, dan bening/jernih. Unsur ini menguasai hal-hal yang berhubungan dengan persendian tulang, unsur tubuh yang padat, kekuatan seks, kekuatan fisik, kesabaran, dan bahan-bahan pemelihara fungsi organ tubuh. Bila unsur ini tidak seimbang, maka akan terjadi penyakit seperti: marah, gangguan saraf, pengerasan pembuluh darah (kecicingan), kegemukan, dan keterbatasan kemampuan pencernaan. Ketidakseimbangan unsur ini diakibatkan oleh: terlalu banyak tidur siang, kebanyakan makan daging/ikan, makanan pedas/asam/pahit/manis yang berlebihan, dan makanan terlalu asin. Unsur ini meningkat pada Sasih Jyestha dan Asadha, Kapitu dan Kawulu.Untuk menjaga kesehatan diperlukan keseimbangan dari ketiga unsur-unsur seperti tersebut di atas (Tri Dhatu). Unsur angin/vata, api/pita dan unsur air/kapha haruslah dalam keadaan seimbang. Untuk menjaga keseimbangannya diperlukan pengaturan (brata) pola hidup, pengaturan pola makan, serta menjaga perasaan dan pikiran agar tidak kacau, marah, cemas dan sebagainya. Walau sudah mampu menjaga keseimbangan ketiga unsur tersebut, tidak jarang orang tetap terkena penyakit. Kondisi seperti ini di dalam usadha disebut dengan bedha atau bencana.

Tetenger dan penyebab penyakit
Tetenger (Nala,1993:204, memakai istilah patengeran pati kalawan urip) merupakan istilah di dalam pengobatan tradisional di Bali, yaitu menyangkut diagnosis dan prognosis. Tetenger merupakan tindakan yang sangat penting dalam pengobatan di Bali. Seorang Balian Usadha atau Ayur Veda, harus mahirtetenger. “Usadha Buda Kecapi Sari”, dan “UsadhaSelik Sejati”, lebih menekankan pada tetenger sebelum melakukan pengobatan. Usadha ini (Budha Kecapai Sari), merupakan kritik kepada usadha sebelumnya seperti: “Usadha Kalimosadha” dan “Usadha Kalimosadhi”. Kritik dilakukan karena dalam melakukan pengobatan,Balian yang bernama Kalimosadha Kalimosadhi dan Usadha yang lain, tidak menegakkan tetenger atau diagnosis penyakit terlebih dahulu sebelum memberikan obat. Hal itulah yang menyebabkan kegagalan dalam dunia pengobatan yang menggunakan usadha. Demi menghindari kegagalan, seorang Balian harus tahu penyebab penyakit terlebih dahulu. Setelah penyebab penyakitnya diketahui, baru dilanjutkan dengan menentukan cara pengobatan termasuk pemberian obat.

Penggolongan penyakit atas penyebabnya
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsuryang ada dalam tubuh manusia (Tri Dosha). Dominasi salah satu unsure (mamurti) akan memudahkan terserang penyakit. Di dalam pengobatan Usadha atau Ayur Veda, penyakit dibedakan atas penyebabnya.
a. Adhyatmika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam tubuh, termasuk penyakit kejiwaan. Penyakit ini berupa penyakit turunan, penyakit bawaan dan penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh (Tri Dosha), seperti tersebut di atas.
b. Adhibhautika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor dari luar tubuh seperti; kuman/bakteri/virus, kecelakaan dan racun.
c. Adhidaiveka adalah penyakit yang timbul karena pengaruh musim atau cuaca, dan penyebab yang tidak kelihatan/tidak jelas.

Ada pula pendapat lain tentang perbedaan penyakit berdasarkan atas penyebabnya:
a. Pawetuan, yaitu penyakit yang diakibatkan oleh factor kelahiran, keturunan, atau penyakit yang datang dari dalam tubuh.
b. Kawisianan yaitu penyakit yang disebabkan oleh wisia/racun, makanan dan minuman, disebabkan oleh perbuatan orang jahat.
c. Kameranan, yaitu penyakit yang disebabkan oleh merana atau binatang, kutu-kutu, baksil, virus, roh-roh jahat, dan juga oleh perubahan cuaca.

Diagnosa penyakit
Balian mendiagnosa penyakit dengan cara memeriksa pasien. Cara pemeriksaannya menggunakan empat cara seperti di bawah.
a. Praktyaksa Pramana, yaitu cara mengetahui penyakit dengan memeriksa langsung melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rabaan.
b. Anumana Pramana, yaitu cara mengetahui penyakit dengan melihat tanda-tanda saja, lalu menarik kesimpulan. Umpama dengan melihat tinja atau dahak, penyakit bisa diketahui.
c. Sabdha Pramamana, yaitucara mengetahui penyakit dengan mendengar keterangan pasien dapat diketahui penyakitnya.
d. Agama Pramana, dengan menggunakan tenung atau pengetahuan yang berkaitan dengan ramalan, seperti: kapan mulai jatuh sakit, hari apa pasien datang ke rumah Balian, berberapa ia datang, berbusana warna apa dan posisi kaki waktu datang.

Tiga prinsip dasar dalam pemeriksaaan penyakit
Pemeriksaan penyakit dalam pengobatan Ayur Veda Bali atau usadha dapat dibedakan menjadi tiga tahapan sebagai berikut.
1. Darshana, yaitu periksaan dengan pengamatan, termasuk sesinglar/cecorong.
2. Sparshana, yaitu pemeriksaan dengan sentuhan.
3. Prashna, yaitu pemeriksaan dengan tanya-jawab.

Pemeriksaan lainnya adalah dengan menerapkan delapan langkah pemeriksaan atau astha pariksa/asthasthana pariksa/tenger kutus. Kedelapan pemeriksaan tersebut seperti:
a. nadi pariksha (pemeriksaan nadi)
b. sarira pariksha (pemeriksaan badan)
c. netra pariksa(pemeriksaan mata)
d. jihwa pariksha (pemeriksaan lidah)
e. carma pariksha (pemeriksaan lidah)
f. naka pariksha (pemeriksaan kuku)
g. naka pariksha (pemeriksaan kuku)
h. uyuh pariksha(pemeriksaan urine)
i. bacin pariksha(pemeriksaan tinja)

Balian yang berpengalaman akan bisa mengetahui kondisi jasmani pasiennya melalui cara-cara pemeriksaan di atas. Di sisi lain Balian akan tahu unsur Tri Dosha apa yang paling dominan (mamurti) dalam diri pasien. Dengan demikian maka perawatan akan bisa diidentifikasi dengan baik.

Pengobatan
Pengobatan dalam Ayur Veda Bali ada beberapa macam. Cara pengobatan tersebut dapat disebutkan sebagai berikut.
a. Pengobatan dengan memakai sesajen (Tawur, balik sumpah, bebayuh, baangan, pamancut, sesangi dsb)
b. Pengobatan dengan meminum ramuan tertentu/jamu-jamuan (loloh)
c. Pengobatan dengan sembar (simbuh)
d. Pengobatan dengan urap (uap,boreh, pupuk, terek)
e. Pengobatan dengan pemanasan (seeb, dusdus)
f. Pengobatan dengan pemijatan (apun/uut/limpun)
g. Pengobatan dengan energy batin seperti:mantra, Suryadipa/deleng, bebayon/prana
h. Pengobatan dengan melakukan diet/brata yaitu dengan berpantang makan
i. Pengobatan dengan air putih (tirta/penawar)
j. Pengobatan dengan sugesti, termasuk pemberian jimat-jimat tertentu.
k. Pengobatan dengan minyak khusus/bertuah (Minyak somya maya).

Tamba/Obat
Dalam pengobatan Ayur Veda Bali, tamba berarti obat, sedang usadha berarti naskah yang berisikan ilmu pengobatan tradisional. Obat di dalam Ayur Veda bertujuan:

a. Untuk menentukan apa yang mempertahankan kesehatan dan apa yang membantu merusak.
b. Untuk menentukan apa yang membantu menghilangkan penyakit dan apa yang membantu mengembangkan.
c. Untuk menentukan methode terbaik terbaik dalam memperpanjang hidup manusia (Caraka dalam Lad dan Robert E. Svaboda, 2000:73)

Di Bali, usadha yang boleh dibilang sebagai sumber yang paling utama dalam mempelajari obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan adalah “Usadha Taru Pramana” dan “Usadha Selik Sejati”. Untuk memahami isi kedua Usadha ini haruslah dibantu dengan “Usadha Dasa Naman Taru”. “Usadha Dasa Naman Taru” merupakan naskah yang mirip kamus eka bahasa dalam bahasa Bali. Naskah ini memuat sinonim nama tumbuh-tumbuhan. Satu tumbuhan terkadang memiliki sepuluh nama lain. Inilah makanya disebut dengan Dasa Naman Taru. Seperti nama:daun dedap sama dengan: don dapdap= taru sakti= taru himawan= kapilawastu dan sebagainya. Buah mahkota dewa dinamai: wohing gasing, cudamani, mattra raga danbrahma phala. Serikaya dinamai lain dengan nama: Ruaning Laksmi Dewi, silik agung, nangkalanda dan masih banyak contoh lain yang kiranya tidak perlu disebutkan satu-persatu.

“Usadha Taru Pramana” dan“Usadha Selik Sejati”, memuat tentang nama-nama pepohonan untuk obat-obatan, serta kasiatnya untuk mengobati penyakit. “Usadha Taru Pramana” berisikan dialog antara Mpu Kuturan dengan tumbuh-tumbuhan, dimana semua tumbuh-tumbuhan yang dipanggil menceritakan dirinya, nama dan kasiatnya (termasuk bagian-bagian seperti: batang, kulit, daun, bunga, buah, biji, lender, akar dan pucuk daun).

“Usadha Selik Sejati” kemungkinan merupakan pelengkap “Usadha Taru Pramana”. Hal ini dapat diperkirakan melalui isi Usadha Selik Sejati tersebut. Hampir semua nama tumbuhan yang disebutkan di dalamnya, tidak ada yang sama dengan nama tumbuhan yang ada dalam Usadha Taru Pramana. Jumlah lembar lontarnya hanyalah 11 lembar. Kemungkinan pengarang lontar ini sudah pernah membaca dan mengetahui isi Usadha Taru Pramanakurang lengkap digunakan dalam melakukan pengobatan, maka dikaranglah lontar Usadha lain untuk melengkapinya. Usadha Selik Sejati, di samping nama tumbuh-tumbuhan obat, juga memuat obat-obatan yang berasal dari jamur-jamur, ulat, kalajengking, kaki seribu, lipan, tawon, belut, sarang wallet dan masih banyak yang lain. Ada kemungkinan juga Usadha ini telah kena pengaruh Cina. Hal itu bisa diketahui dari penyebutan: nama ginseng dengan nama: soma kancana, soma kuning dan witkancana, ginsom, disebut dengan soma petak,iswarapadha dan soma putih. Namun demikian pendapat tadi perlu dipikirkan ulang, mengingat dalam bahasa Jawa Kuno kata soma telah ada. Ini terbukti dengan dimuatnya bahan sesajen yang digunakan ketika dilakukan upacara mohon keturunan untuk raja Dasaratha oleh seorang resi yang bernama Resi Asrengga di kerajaan Ayodhya. Kalimat lengkapnya berbunyi:

Sampun bhatara inenah
tinitisaken ta ng minaksasomyamaya,
lawan kresna tila madhu,,
sriwreksa samiddha rowangnya. (Kakawin RY,1:27).

Terjemahan:
Setelah Bhatara distanakan,
dipercikilah dengan minyak soma yang bertuah,
beserta dengan biji-bijian hitam dan madu,
kayu cendana dan kayu bakar temannya.

Jadi kata soma yang berarti bertuah, sakti, suci, ajaib, atau berkasiat rupanya telah dikenal dari zaman dikarangnya “Kakawin Ramayana”. Kemungkinan bahkan sebelumnya, sebab kata soma juga bisa berarti Dewa Soma. Karena tujuan tulisan ini bukan untuk menjelaskan asal-usul kedua kata dalam Usadha ini, maka ulasan tidak diperpanjang lagi.

Usadha Taru Pramana
“Usadha Taru Pramana” sangat terkenal di kalangan pengobatan Ayur Veda di Bali. Seperti telah disingung di atas, bahwa Usadha ini memuat nama tumbuh-tumbuhan obat dan kasiatnya. Setidaknya terdapat 159 nama tumbuh-tumbuhan beserta kasiatnya tercantum di dalamnya. Pada awalnya, Usadha ini menceritakan keberadaan seorang resi sekaligus dukun yang sangat siddhi. Suatu ketika beliau gagal mengobati orang sakit. Beliau lalu melakukan tapa memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk. Karena kusuknya beliau bertapa, maka terdengarlah sabda dari langit, bahwa permohonan beliau dikabulkan. Lalu datanglah pohon kepuh (kapuk). Pohon kepuh mengatakan bahwa dirinya tidak bisa dipakai obat, namun ia bersedia memberitahu pohon-pohon lain agar datang ke hadapan sang Resi untuk memberitahukan kasiat mereka. Akhirnya dengan kekuatan batin sang resi maka dipanggillah seluruh pepohonan yang berkasiat obat agar datang memberitahu kegunaaanya.

Catatan:

Ada tulisan yang keliru mengartikan campuran obat, nama penyakit dan nama tumbuhan. Umpama: penyakit buh diartikan dengan sakit beri-beri (Anom2011: 29). Buh memang berarti bengkak. Namun buh bisa berarti: bisul, kanker, tumor dll. Sakit ila, diterjemahkan dengan sakit cacar, padahal seharusnya diartikan sebagai sakit kusta/ lepra. Di dalam Usadha Kacacar disebut dengan cacar.

Penutup
a. Pengobatan dengan Usadha atau Ayur Veda Bali merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan dan seni.
b. Pengobatan dalam Usadha atau Ayur Veda Bali, sebenarnya sangat kompleks, namun masih banyak kekurangan. Kekurangan yang dimaksud seperti penyebutan nama penyakit yang bersifat umum. Seperti:sakit kepala atau puruh/pengeng. sakit perut, buh, sakit ngreges, batuk/dekah dan masih ada yang lainnya. Namun secara detail nama penyakitnya tidak disebutkan. Di sisi lain, takaran pemberian obat juga tidak disebutkan. Pada hal takaran pemberian obat ini sangat penting.
c. Pengobatan dalam Usadha dengan cara pemijatan (apun/uut), tidak lengkap. Dalam arti, teknik pemijatan tidak dijelaskan. Pengobatan cara ini hanya ada dalam tradisi (tradisi lisan) yang bersifat turun-temurun.
d. Dahulu pengobatan Usadha atau Ayur Veda Bali merupakan pengobatan alternatif. Namun kini lebih bersifat penyembuhan komplementer.
e. Tidak semua pengobatan yang tercakup dalam Ayur Veda ada dalam pengobatan Usadha. Pencegahan penyakit dan metode peremajaanhanya sedikit yang disinggung. Metode pembersihan raga yang disebut Pancha Karmatidak ada dalam Usadha.. Karena itu metode pencegahan dan peremajaan dalam tulisan ini tidak dibicarakan.
f. Komplek dan luasnya cakupan pengertian pengobatan dalam Usadha belum mampu disuguhkan dalam kesempatan ini. Untuk itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga tulisan singkat ini ada faedahnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anom, Ida Bagus. 2011. Pupulan Indik Taru. Denpasar. Kayumas Agung.

Dash, Vaidya Bhagwan & Suhasini Ramaswamy. 2006. Ilmu Pengobatan Tradisional India. Surabaya. Paramita

Devaraj. T.L. 2009. The Practical Panchakarma Therapy. Delhi. Shrish Printers

Hainerman, Johr. 2003. (Alih bahasa Hermes). Ensiklopedi Juice Buah & Sayur Penyembuhan. Tanpa tempat terbit. Pustaka Delapratasa.

Hobart, Engela. 2005. Healing Performances of Bali: Between Darknees And Light. . United States. British Library.

Jirnaya, I Ketut.2011. “Budha Kecapi: Teks Sastra Pengobatan Tradisional Masyarakat Bali. Denpasar. Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Lad, vasant & Robert E. Svaboda, (Terjemahan Agus Mantik). 2000. Surabaya. Paramita.

Nala. Dokter Ngurah. M.P.H. 1993. Usadha Bali. Denpasar. P.T. Upada Sastra

––––. 2006. Aksara Bali dalam Usadha. Surabaya. Paramita.

Suparni, ibunda & Ari Wulandari. 2012. Herbal Nusantara: 1001 Ramuan Tradisional Asli Indonesia. Yogyakarta. Rapha Publishing.

Tim Penyusun Kamus. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. TT.

Zoutmulder. P.J. 2006. Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.