Yajna Sang Puput: Telaah Struktur dan Makna

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Puisi Bali modern yang berjudul Yajna Sang Puput karya I Dewa Ketut Soma merupakan salah satu dari kumpulan puisi Bali yang berjudul Pupute Tan Sida Puput. Puisi ini merupakan cermin sejarah Puputan Klungkung yang terjadi pada Selasa 28 April 1908. Berawal dari kisah ekspedisi Belanda yang handal dipimpin Letnan Kolonel Von Schauroth, yang membagi serangan Belanda atas tiga bagian utama dengan sasaran penyerbuan adalah benteng-benteng Kerajaan Klungkung. Hal ini dilakukan Belanda karena benteng Kerajaan Klungkung dipertahankan dengan kuat oleh laskar yang dipersiapkan secara baik dan rapi.

Dari arah timur (Karangasem) kompi angkatan darat Belanda dipimpin Kapten Carpentier Alting yang bermarkas di Desa Lebu dengan kekuatan 110 serdadu, bertugas menyerang benteng Desa Satria hingga berhasil membuka pintu pertahanan Klungkung, sekaligus memberi peluang bagi pasukan bantuan yang bergerak dari Kusamba. Sementara pasukan gabungan Belanda dari arah selatan berhasil menerobos benteng Galiran dan Meregan yang berhadapan dengan laskar Klungkung yang dipimpin Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Smarabawa. Laskar Klungkung yang mempertahankan benteng selatan ini berkekuatan lebih dari 1.000 prajurit dengan senjata bedil, tombak, keris, dan diperkuat dengan dua buah meriam (Sidemen, 2001:141). Dari arah barat (Gianyar), pasukan Belanda dipimpin Kapten Van Nues bermarkas di Tulikup. Pasukan Belanda yang lebih dahulu menyerang benteng barat, bertujuan untuk membendung musuh agar tidak dapat melarikan diri masuk ke wilayah Gianyar dan mencegah bantuan laskar dari kerajaan lain yang dikirimkan secara gelap ke wilayah Klungkung. Pasukan Belanda yang bergerak dari Tulikup ini berhadapan dengan laskar Banjarangkan yang dipimpin oleh Cokorda Gde Oka dan Cokorda Gde Raka.

Jatuhnya benteng tepian kota ke tangan pasukan Belanda, berarti istana raja telah terkepung. Para pemimpin laskar termasuk yang setia terhadap Kerajaan Klungkung, mengenakan kain putih sebatas lutut dengan ikat kepala putih, bersenjata keris terhunus. Apabila telah memakai pakaian dan peralatan perang seperti ini, berarti mereka akan berperang habis-habisan (puputan) mempertahankan kehormatan dan kemerdekaan dari tangan penjajah. Bagi laskar Klungkung, bertahan atau menyerang akibatnya sama saja. Harapan untuk memperoleh kemenangan dalam situasi pertempuran yang tidak imbang dalam senjata adalah sangat kecil. Namun, berdasarkan slogan “tosning satria mautama, satya salunglung sabayantaka”, mewarnai keputusan sikap perang puputan yang diambil oleh sebagaian besar laskar yang mempertahankan istana.

Berita gugurnya para pemimpin perang, seperti Cokorda Gelgel dan Dewa Agung Smarabawa, segera disampaikan ke hadapan Dewa Agung Gde Agung (putra mahkota). Walaupun umurnya masih muda (sekitar 12 tahun), beliau pun turun ke medan perang mengikuti ibu suri Dewa Agung Muter. Diiringi oleh para prajurit pamating, gugur bersama di medan perang membela kemerdekaan dan kebenaran. Mengetahui bahwa putra mahkota dan permaisuri telah gugur, maka Dewa Agung Jambe, maju ke medan laga hingga titik darah penghabisan. Kekalahan tidak dapat dihindari lagi, tetapi mesti dihadapi dengan sikap kesatria sejati. Dewa Agung keluar dari istana Smarapura diikuti oleh seluruh keluarga istana yang masih hidup dan setia, laki-laki, perempuan dan anak-anak, para pembesar kerajaan serta laskar pecalang dan pemating. Semuanya berpakaian perang warna putih dengan keris terhunus dan tombak bertangkai pendek. Iringan-iringan ini disaksikan Belanda sebagai ciri bahwa perang puputan mencapai puncaknya. Berakhir dengan gugurnya laskar Klungkung sebagai pahlawan mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan kerajaannya.

1.2 Masalah

Berdasarkan gambaran latar belakang di atas, kaitannya dengan istilah puputan sebagai suatu yang bersifat heroisme religius sebagaimana terungkap dalam puisi Bali modern: Yajna Sang Puput, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.

1) Bagaimana bentuk puisi Yajna Sang Puput, sebagai cermin puputan heroisme yang religius?

2) Sejauhmana makna yang tercermin dalam puisi Yajna Sang Puput sebagai hasil resepsi pengarang terhadap puputan heroisme yang religius?

II. PEMBAHASAN

2.1 Telaah Struktur  Puisi “Yajna Sang Puput”

2.1.1 Alur

Teeuw (1988:135), mengatakan bahwa pada prinsipnya analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail dan sedalam mungkin keterkaitan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna yang menyeluruh. Setiap karya sastra memerlukan metode analisis yang sesuai dengan sifat dan strukturnya. Strukturalisme berpandangan bahwa suatu karya sastra memiliki otonomi tersendiri. Setiap unsur yang membangun struktur saling tergantung dalam mewujudkan keutuhan tersebut. Karya sastra memperlihatkan hubungan timbal balik antarunsur dan hubungan unsur-unsur tersebut dengan keseluruhan (Pradotokusumo, 1986:40).

Partini Sarjono Pradotokusumo (1986:60) mengatakan suatu karya sastra yang berwujud teks dan tertulis dengan bahasa yang khas itu tidak akan berfungsi jika tidak ada pembacanya yang menjadi penyambut, penafsir, dan pemberi makna. Dan yang harus diperhatikan pembaca sebagai penyambut dan penafsir apabila menghadapi karya sastra adalah konvensi-konvensi yang memadu permainan dan perbedaan-perbedaan serta proses dalam pembentukan makna, sebab membaca pada dasarnya adalah membina atau membangun acuan.

Perbedaan masa teks yang akan dianalisis dengan masa pembaca teks perlu  diperhatikan dalam memberi makna terhadap teks tersebut. Dalam menghadapi teks lama seperti itu pembaca harus berusaha lebih keras untuk menjembatani waktu yang telah lalu dan ketidaktahuannya mengenai zaman teks tersebut (Ikram, 1980:7). Perubahan makna yang diakibatkan oleh perubahan zaman tidak dapat memungkiri kenyataan adanya struktur yang langgeng, dan tetap, akan tetapi struktur juga bersifat dinamis dan mengalami perubahan sepanjang sejarah melalui pikiran penikmatnya (Wellek dan Waren, 1989:192–193).

Sebagai sebuah karya sastra puisi modern yang berjudul “YajnaSangPuput”, akan dijelaskan beberapa unsur yang membangun karya sastra ini, yakni: alur, penokohan, tema, dan latar. Hal ini didasari alasan bahwa unsur-unsur tersebut memegang peranan penting dalam cerita untuk mengungkap pesan pengarang melalui karyanya itu. Di samping itu, berdasarkan pendapat Culler yang dikutip Panuti Sudjiman (1982:11) mengatakan kalau cerita rekaan merupakan suatu sistem, maka subsistem yang terpenting di dalamnya adalah: alur, tema, dan tokoh karena tokoh dan tema berkaitan. Walaupun demikian bukan berarti unsur yang lain tidak penting, hanya pada kesempatan ini unsur tersebutlah yang menjadi penekanan dalam tulisan ini.

Alur adalah jalinan ‘peristiwa’ di dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu. Kaitannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Rangkaian ‘peristiwa’ yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan ‘cerita’ melalui ‘rumitan’ ke arah klimaks dan ‘selesaian’ (Panuti, 1990:4). Lebih lanjut Panuti Sudjiman (1992:30) mengatakan walaupun cerita rekaan beraneka ragam coraknya, ada pola-pola tertentu yang hampir selalu terdapat di dalam sebuah cerita rekaan. Beliau menggambarkan struktur umum alur sebagai berikut: (a) awal, terdiri dari paparan (exposition), rangsangan (incitingmoment), gawatan (risingaction), dan tikaian (conflict); (b) tengah, terdiri dari rumitan (complication), klimaks, dan leraian (fallingaction); dan (c) akhir, yang disebut selesaian (denovoment).

Sistem alur berdasarkan cerita yang terungkap dalam puisi modern “YajnaSangPuput”ini kaitannya diwujudkan dengan kausalitas (sebab-akibat), artinya peristiwa dalam cerita disusun berdasarkan susunan sebab dan akibat. Untuk itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, alur dimulai dengan dialog damai antara Ida Dewa Agung Putra dengan Belanda yang menemui jalan buntu. Belanda rupanya tidak ingin sejarah puputan Badung terulang kembali. Namun, di pihak Klungkung bersikeras untuk melawan Belanda hingga titik darah penghabisan. Akibatnya puputan Klungkung tidak bisa dihindari lagi, perang berkecamuk dengan dahsyatnya.

Kedua, walaupun dengan persenjataan yang sangat sederhana pihak Klungkung tidak mundur setapak melawan Belanda yang bersenjata lengkap. Akibatnya dengan mudah dapat dikalahkan oleh Belanda dengan strategi penyerangan dari tiga arah, yakni timur, selatan, dan barat. Raja dan balatentara Klungkung semua mati membela kedaulatan, negeri, dan kebenaran atas upaya licik musuhnya (Belanda). Hanya dengan sifat satria nindihin gumi, salunglungsabayantaka, pihak Klungkung berperang hingga puputan.

Ketiga, sifat satria membela negeri dan kebenaran yang dilakukan seorang raja merupakan cermin perilaku seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya. akibatnya perilaku itu diharapkan sebagai tauladan terutama bagi rakyat Klungkung dan Bali pada umumnya. Perlawanan terhadap penjajah (Belanda) disebut sebagai sebuah yajna yang mesti dijadikan pedoman bagi seseorang yang benar-benar ingin membela negeri, kedaulatan, dan kebenaran sejati. Terlebih adanya putra mahkota (Dewa Agung Putra) yang saat itu masih berusia 12 tahun, ikut menjadi korban ganasnya perang, sebagai ciri telah adanya benih-benih sifat satria utama membela negeri.

Pengaluran yang diwujudkan dengan waktu atau temporal ditemukan, pada puisi “Yajna Sang Puput” terutama pada paragraf pertama, yakni siya dasa tiga masa … (I:1), anggara umanis wayang … (I:3), dan warsa siyu sanga atus kutus … (I:4). Berdasarkan struktur alur yang dikemukakan oleh Panuti Sudjiman, maka struktur alur puisi “Yajna Sang Puput” ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Paparan (exposition), ketika dilakukan dialog damai antara Raja Klungkungdengan Belanda. Rangsangan (insiting moment), keinginan Belanda agar tidak terulang lagi seperti puputan Badung di Klungkung. Gawatan (rising action), ketika pihak Klungkung menolak Belanda untuk damai, dan lebih memilih jalan perang membela kedaulatan. Tikaian (conflict), saat berkecamuknya perang antara pihak Klungkung dengan Belanda dengan persenjataan yang tidak sepadan. Rumitan (complication) terjadi ketika pihak Klungkung terdesak oleh Belanda, yang hanya bermodal sifat satria nindihin gumi dan kepatutan. Klimaks ketika perang habis-habisan(puputan) membela kedaulatan dan kebenaran. Leraian (falling action) ketika terjadi puncak kesedihan, ketegangan, dan kebingungan ketika meninggalnya putra mahkota bersama ibunya, menyusul Ida Dewa Agung Jambe (Raja Klungkung) sebagai satria utama (satria mahotama).

2.1.2 Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Panuti, 1992:1). Tokoh-tokoh dibentuk untuk mendukung dan melukiskan amanat cerita (Ikram, 1980:46). Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi dapat juga berwujud binatang atau benda yang diinsankan (Panuti, 1992:16). Lebih lanjut Panuti Sudjiman mengatakan berdasarkan fungsinya tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh yang memegang peran pimpinan disebut tokoh utama atau protagonis. Adapun tokoh yang merupakan penentang utama dari protagonis disebut antagonis atau tokoh lawan yang termasuk tokoh sentral. Di samping protagonis dan antagonis, yang termasuk tokoh sentral adalah Wirawan atau Wirawati, merupakan tokoh penting dalam cerita. Demikian pentingnya, maka cenderung menggeser kedudukan tokoh utama. Wirawan pada umumnya memiliki keagungan pikiran dan keluhuran budhi yang tercermin di dalam maksud dan tindakan yang mulia. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang tokoh utama.

Tokoh sentral yang tercermin dalam puisi “Yajna Sang Puput” adalah Ida Dewa Agung Putra (Jambe), selaku Raja Klungkungdan putra mahkota dengan nama yang sama sebagai tokoh sentral melawan Belanda. Sedangkan tokoh permaisuri dan rakyat yang setia dengan Klungkung yang turut berperang hingga titik darah penghabisanmerupakan tokoh tambahan dalam puisi tersebut.

Sementara tokoh-tokoh bawahan seperti punggawa termasuk seluruh keluarga yang senantiasa berdoa untuk kemenangan dan menganggap perang seabgai sebuah yajna mempunyai watak setia membela kebenaran walau dicengkram oleh rasa sedih yang mendalam. Sebagai tokoh yang kuat memegang ajaran kebenaran (dharma) mereka selalu menyelesaikan masalah dengan pikiran yang tenang, menghindari bentuk perbuatan yang menimbulkan dosa. Pengarang lewat tokoh-tokoh pengikutnya selalu menghendaki lenyapnya penderitaan di dunia ini dengan selalu berpegang pada ajaran kebenaran dan senantiasa menghajap anugerah Ida Hyang Widhi untuk keajegan Kerajaan Klungkung.

2.1.3 Tema

Dalam setiap karya sastra termasuk puisi “Yajna Sang Puput” tentu ada pokok persoalan yang ingin disampaikan atau ditonjolkan oleh pengarangnya. Pokok persoalan itu disebut tema. Sulastin Sutrisno (1983:138), mengatakan bahwa tema adalah mewakili pikiran atau tujuan utama penulisan suatu karya sastra. Poerwadarminto (1976:1040), mengatakan bahwa tema adalah pokok pikiran, dasar pikiran yang dipakai sebagai dasar mengarang.

Selanjutnya Panuti (1990:78), mengatakan bahwa tema adalah gagasan, ide, ataupun pikiran utama di dalam karya sastra baik yang terungkap maupun tak terungkap. Walaupun sudah diketahui batasan tema serta diberikan contoh-contohnya, tidaklah selalu mudah menemukan tema suatu karya sastra (Panuti, 1992:55). Lebih lanjut dikatakan bahwa sebuah karya sastra dapat ditafsir ganda (multi-interpretable); itulah satu ciri wacana sastra.

Tema sentral pada puisi “Yajna Sang Puput” ini adalah rasa patriotisme yang bersifat religius, sebagai wujud protes terhadap intervensi Belanda terhadap Kerajaan Klungkung. Kehadiran Belanda untuk dialog damai ditolak oleh pihak Klungkung. Dewa Soma sebagai pengarang puisi Bali modern ini melukiskan   peristiwa sejarah puputan Klungkung, nilai filsafat, estetis, metafor, rasa sedih, yang dituangkan ke dalam karya sastra puisi Bali modern, yang hanya terdiri dari tiga paragraf. Melalui puisi ini, setidaknya para pembaca terutama rakyat Klungkung dan Bali pada umumnya dapat mencermati bagaimana puputan Klungkung itu terjadi. Terlebih sifat-sifat kesatria membela negeri, kedaulatan, dan kebenaran dari tangan penjajah, mesti mendapat tempat di setiap pikiran masyarakat Bali ke depan agar adat, agama (Hindu), dan budaya Bali tetap ajek sepanjang zaman.

Di samping tema sentral di atas, ada pula tema sampingan yaitu tentang dharma (kebenaran) dan perang sebagai yajna, yang begitu kental pada tradisi masyarakat Bali. Dharma itulah yang dapat membuat orang bahagia di dunia maya dan dunia akhirat. “dharmolah matagong ta sadhu sira ring rat yukti diwya guna” (KNC, I:9b), artinya mengamalkan kebenaran (dharma) hakiki berdasar sifat jujur di masyarakat adalah sifat mulia. “pan dharmma nitya dinamel…” (KNC, VII:7a), artinya karena kebenaran (dharma) yang selalu dipegang teguh. Dharma seorang satria dalam medan laga adalah bentuk yajna yang mesti direnungi dan dipegang teguh, karena yajna dan kebenaran senantiasa melindungi umatnya dari segala rintangan. Jika seseorang telah berpegang teguh pada dharma maka dharma juga akan menjaga atau melindunginya.

2.1.4 Latar

Latar (setting) adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (Sudjiman, 1990:48). Secara rinci latar adalah penggambaran lokasi geografi, termasuk topografis, pemandangan, hingga rincian perlengkapan sebuah ruangan; pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh; waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral intelektual, sosial, dan emosional para tokoh (Sudjiman, 1992:44). Hudson (1963), membedakan latar menjadi dua yaitu latar fisik atau material dan latar sosial. Latar fisik (material) adalah tempat di dalam wujud fisiknya yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya. Sedangkan latar sosial adalah mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa (Sudjiman, 1992:44).

Penggambaran latar pada puisi “Yajna Sang Puput” ini dapat dilihat misalnya latar fisik seperti Kerajaan Klungkung dan tempat terjadinya puputan. Sedangkan latar sosial tercermin dalam musyawarah kerajaan ketika dialog damai dengan Belanda, suasana puputan, suasana Raja Klungkung, putra mahkota, permaisuri, beserta rakyat dalam memasuki medan perang membela Kerajaan Klungkung, dan lain sebagainya. Dengan konsep yajna membela negeri (mayajnamelanin gumi), sebagai wujud sifat satria utama (tosning satria mahotama), yang mesti diteladani sepanjang masa (patut tuut katutug ngantos kapungkur), adalah termasuk penggambaran latar sosial dalam karya ini.

2.2 Telaah Makna “Yajna Sang Puput”

2.2.1 Makna Kreativitas Pangawi

Penciptaan puisi Bali “Yajna Sang Puput” sebagai tanggapan penyair (Dewa Soma) terhadap Puputan Klungkung, sepertinya telah membaca secara mendalam sejarah Klungkung terutama yang memuat konsep pamating sebagai sebuah sifat satria utama (satria mahutama) dalam memperjuangkan kedaulatan negeri dan keajegan kebenaran. Pemahaman serta tanggapan terhadap sejarah Klungkung (1908) adalah bukti kreativitas pengarang dalam mewujudkan karyanya, sehingga dalam puisi ciptaannya memunculkan konsep “puputan” sebagai sebuah yajna yang mesti diteladani generasi mendatang dalam membela tanah air dan kedaulatannya. Dengan membaca, mendiskusikan, dan menafsirkan puisi Bali yang berjudul “Yajna Sang Puput” yang mencerminkan konsep puputan secara benar, maka suatu ketika mungkin akan lahir puisi baru sebagai hasil kreativitas pembaca terhadap sejarah Klungkung yang bersifat patriot religius.

Sebagai seorang pengarang puisi Bali modern, ada catatan penting yang perlu diketahui sebagai kreativitasnya, yakni kemampuannya dalam mengemas sejarah atau puputan Klungkung menjadi tiga paragraf yang diberi judul “Yajna Sang Puput”. Melalui tiga paragraf yang membangun puisi tersebut, dapat merangkum puputan Klungkung secara keseluruhan, yakni sejak adanya musyawarah damai antara Belanda dengan pihak Kerajaan Klungkung, sampai meletusnya perang dahsyat  hingga titik darah penghabisan.

Menurut catatan yang tertera pada akhir puisinya, I Dewa Ketut Soma selaku pengarang puisi tersebut berasal dari Desa Satra Klungkung,lahir pada 1 Januari 1966. Di usia yang relatif muda (35 tahun) Dewa Soma telah berhasil mencurahkan perjuangan secara moral lewat puisi ciptaanya yang bersumber dari sejarah Klungkung. Hal ini dibuktikan bahwa puisi yang bermakna heroisme religius dapat dirampungkan pada Rabu (Buda) Pon Pujut, tahun Saka 1926 atau tepatnya pada 28 Maret 2001. Selaku pengarang muda sebagaimana tertera pada paragraf ketiga, ia memberikan tanggapan terhadap konsep puputan yang dikemas dengan pilihan kata-kata yang demikian estetik penuh makna. Dikatakan bahwa para satria utama (tosning satria mahottama) yang meninggal saat puputan adalah sebuah konsep yajna untuk membela Klungkung berdasarkan tiga kesetiaan, yakni setia pada diri sendiri, kata-kata, dan perilaku (satya ring raga, wacana lan laksana). Adanya ciptaan puisi Bali ini tentunya sangat mengembirakan di kalangan pencinta puisi Bali modern, sebagai salah satu bukti kreativitas, kemajuan, dan perkembangan dalam “per-puisi-an” Bali modern yang dikemas begitu estetik. Di samping itu, adanya penciptaan karya-karya puisi Bali modern lainnya tentu membuktikan betapa jenis karya ini digemari oleh generasi muda di Bali dan secara kuantitas nampak menggembirakan.

2.2.2 Makna Heroisme Religius

Dengan gugurnya Ida Dewa Agung Putra bersama rakyatnya di medan perang menghadapi Belanda yang congkak dan rakus, adalah suatu cermin bahwa puputan Klungkung memiliki makna yang heroisme religius. Dikatakan demikian, karena mereka yang gugur di medan laga itu adalah cermin yajna. Mereka beryajna membela negeri sebagai satria-satria pemberani, menumpas penjajah di negerinya walaupun dengan senjata yang sangat tidak memadai tinimbang musuhnya (Belanda). Hanya sebuah yajna membela kedaulatan dan kebenaran (mayajnamelaningumi), setia kepada junjungan dan diri sendiri, kata-kata salunglungsabayantaka, mereka berjuang habis-habisan hingga puput atau gugur. Ini merupakan makna sejarah yang sungguh heroisme, karena berpedoman pada konsep yajna, bahwa mati di medan laga adalah sorga seorang ksatria pemimpin negeri, daripada harga dirinya diinjak-injak penjajah atau bertekuk lutut di bawah kecongkakan kaum penjajah. Di sini juga ada konsep kemerdekaan atau kebebasan dari tangan penjajah. Dengan gugur membela negeri, adalah yajna sang puput, sehingga layak diteladani atau dijadikan cermin kehidupan pada masa-masa mendatang. Hal ini dapat dilihat pada paragraf ketiga puisi “YajnaSang Puput” sebagai berikut:

Duh sang satria meraga lina
iratu puput melanin gumi
meyajna melanin gumi
satya ring raga, wacana lan laksana
tosning ksatriya mahottama
puniki wantah yajna sang puput
puput sangkaning meyajna
sane patut tuut ketutug ngantos kapungkur.

Jika gambaran di atas direnungkan secara mendalam, tentu mengingatkan pada keagungan maha karya Mpu Sdah dan Mpu Panuluh seperti tertera pada permulaan Kakawin Bharata Yuddha. Dalam kakawin tersebut, tampaknya Mpu Sdah dan Mpu Panuluh sangat lihai menyusun kata-kata yang demikian estetik,  penuh makna yajna di medan laga. Dengan kalimat-kalimat pilihannya, beliau memuji Raja Jayabaya, sebuah nama yang sering menyentuh telinga orang-orang Jawa khususnya, yang mengandung arti menang terhadap bahaya. Demikian juga halnya dalam puisi “Yajna sang Puput”, tersirat makna yajna sebagaimana tertera dalam Kakawin Bharata Yuddha. Ini berarti bahwa Dewa Soma, pengarang puisi “Yajna sang Puput”, kiranya sangat paham akan makna yajna dalam puisi Jawa Kuna sebagaimana terdapat dalam awal Kakawin Bharata Yuddha, yang terjemahannya: Sang ksatria bermaksud melakukan pengorbanan (yajna) dalam pertempuran, bermaksud menghilangkan seluruh musuh atau dengan suka hati menaburkan bunga yang ada di rambut musuh yang gugur di medan pertempuran ataucudamani para raja yang gugur sebagai “bija”nya dan sebagai api pujaannya adalah negara musuh yang terbakar hangus atau senantiasa menyajikan kepala musuh yang dipenggal di keretanya. Jika Mpu Sdah dan Mpu Panuluh memberikan kata-kata pujian kepada Raja Jayabaya, maka Dewa Soma pun melalui puisinya turut menyampaikan rasa heroik dan konsep yajna kepada mereka yang gugur dalam puputan Klungkung, di samping rasa tanggung jawabnya secara moral sebagai orang yang lahir di Desa Satra Klungkung.

Diakui oleh penulis barat (Van Koll), bahwa puputan bukan suatu taktik perang putus asa. Puputan adalah suatu penyelesaian perang membela kemerdekaan dan kebenaran dari ancaman asing. Kekalahan tidak dijemput dengan penyerahan, tetapi oleh semangat perang dan ajaran suci yang diajarkan agama Hindu (matelasan nindihin dharma). Lebih jauh Van Koll melukiskan puncak peristiwa puputan sebagai suatu peristiwa yang sangat mengerikan dan menyayat hati serta menegangkan syaraf telah terjadi hanya berjarak 100 meter di depan serdadu Belanda. Seorang raja yang mulia dan terpuji, tergeletak dengan tengkorak hancur dan otaknya keluar berhamburan. Sedikit agak ke depan terlihat para istrinya gugur dengan luka parah kena peluru. Terlebih ketika seorang putra mahkota dalam usia 12 tahun turut gugur di medan laga, membuktikan betapa makna pembelaan terhadap ibu pertiwi atau tanah kelahiran sebagai satria utama cilik, gugur bersama ibu yang melahirkannya, sungguh membuat hati yang demikian tersayat. Di kalangan Belanda pun merasa kagum atas gugurnya putra mahkota yang masih berusia 12 tahun, yang tergeletak di tengah-tengah bergelimpangnya mayat wanita-wanita. Rupanya makna dari peristiwa itu menunjukkan bahwa adat Bali yang suci dan luhur mendapat tempat yang lebih tinggi dari kehidupan duniawi, sebagaimana yang diperlihatkan oleh putra mahkota sebagai suatu nilai heroisme religius, sebagai jawaban atas penjajahan yang bersifat material semata. Hal ini terlukis dalam paragraf kedua puisi “Yajna Sang Puput”, yakni dengan berbakti kepada persada, Raja Ida Dewa Agung Putra berikut rakyatnya memutuskan untuk perang habis-habisan dengan Belanda yang congkak, rakus, dan tanpa rasa malu (siate mabelapati nindihin gumi, malarapan manah bakti, Ida Dewa Agung Putra saha panjak mutusan raga, mapuputan pati nindihin pertiwi, ngarepin Welanda corah masebeng pongah).

III. PENUTUP
3.1 Simpulan

Berdasarkan telaah bentuk dan makna sebuah puisi Bali modern karya Dewa Soma yang berjudul “Yajna Sang Puput”, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1) Secara struktur puisi tersebut memiliki alur, penokohan, tema, dan latar (setting) yang imbang dalam membangun totalitas sebuah puisi Bali modern yang berjudul “Yajna Sang Puput”. Cerita dalam puisi yang disampaikan dengan kata-kata pilihan, mencerminkan peristiwa puputan Klungkung, yang diawali penolakan upaya damai dari pihak Belanda, hingga puputan membela negeri dan kebenaran.

2) Kreativitas pangawi membuktikan betapa tradisi penulisan karya sastra puisi Bali modern berkembang di Bali hingga kini. Kehadiran karya sastra puisi Bali modern seperti ini dapat membangkitkan semangat juang generasi muda untuk menjaga alam Bali ini, agar tetap lestari, aman, damai, dan terhindar dari ancaman penjajah. Kreativitas Dewa Soma seperti ini, akan memunculkan karya-karya puisi Bali modern lainnya, yang bisa saja bersumber pada cerita klasik, kini, dan harapan Bali ke depan, yang lebih mengutamakan keajegan Bali dalam segala aspeknya yang dijiwai kemuliaan ajaran agama Hindu.

3) Sebagai sebuah karya sastra yang berbentuk puisi Bali modern, konsep “Yajna Sang Puput” adalah cermin perjuangan yang bersifat heroisme religius. Hanya dengan semangat yang mendalam, rasa religius yang tinggi, maka seorang kesatria atau pemimpin dapat menjaga harga diri, kedaulatan, dan kebenaran yang hakiki. Yajna berdasarkan dharma adalah cermin puputan, yang mesti diteladani generasi muda dalam membela negeri tercintanya.

DAFTAR  PUSTAKA

Agastia, IBG. 1982. Sastra Jawa Kuna dan Kita. Denpasar: Wyasa Sanggraha.

Hadi, Sutrisno. 1983. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Jelantik, IB. dan IB. Putu Suamba. 2002. “Ida Wayan Oka Granoka: Seni sebagai Ritus”. Cintamani, Edisi 06 Tahun I: 50-52.

Mangunwijaya, Y.B. 1982. Sastra dan Religiusitas. Jakarta: Sinar Harapan.

Moleong, Lexy J. 1998. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwadarminta, WJS. 1975. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sidemen, Ida Bagus. 2001. Sejarah Klungkung (dari Smarapura sampai Puputan). Klungkung: Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Sedyawati, Edi. 1994. “Nilai Seni dalam Masyarakat Bali”Makalah dalam Simposium Internasional Kajian Budaya Austronesia I di Denpasar, tanggal 14-16 Agustus 1994.

Warna, I Wayan. dkk. 1978. Kamus Bali-Indonesia. Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali.