|    |    |    

Bahasa Indonesia  |  English  

Berita

Beranda / Berita

10 Nov 2018

7.351 Pelamar Terdaftar Ikuti Tes SKD Perpustakaan Nasional

Cawang, Jakarta - Sebanyak 7.351 pelamar mengikuti Tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) calon pegawai negeri sipil (CPNS) Perpustakaan Nasional Tahun 2018. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi administrasi terhadap 8.175 pelamar di Perpusnas. Untuk penerimaan CPNS Tahun 2018, Perpusnas membuka 331 formasi yang terdiri dari 20 jabatan untuk penempatan di Perpusnas Jakarta, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar, dan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta di Bukittinggi.

Tes SKD digelar mulai Jumat, 9 November 2018 hingga Selasa, 13 November 2018 di Badan Kepegawaian Negara, Jakarta. Tes SKD menggunakan sistem Computer Assissted Test (CAT) ysng terdiri dari 100 soal dengan tiga kelompok, yakni Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Tes berlangsung selama 90 menit. Agar lolos ke tahapan berikutnya, peserta ujian umum harus meraih nilai ambang batas masing-masing 143,80 dan 75. Peserta yang lulus tes SKD akan mengikuti tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Kepala Bagian Kepegawaian Perpusnas Totok Suprapto menyatakan nilai ambang batas ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor 36 Tahun 2018. “Untuk lolos SKD ini, kita ambil satu banding tiga. Kalau kita butuh 331 CPNS, yang akan kita saring untuk Tes SKB itu 993,” jelasnya saat ditemui di Kantor BKN, Jakarta, Jumat, (9/11).

Untuk menghindari kecurangan, panitia seleksi CPNS Perpusnas memeriksa dengan seksama peserta tes SKD. Peserta dilarang mengenakan barang-barang yang mengandung unsur logam, seperti perhiasan sampai ikat pinggang. Totok menjelaskan, peserta hanya dibolehkan membawa kartu peserta ujian dan KTP atau Surat Keterangan telah melakukan rekaman kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dalam kondisi asli.

“Kita periksa antara kartu ujian, KTP dan wajah pelamar itu sama nggak. Kemudian apakah ada alat perekam yang disembunyikan, kita periksa semua. Termasuk jimat-jimat, di media ada itu, jadi kita periksa. Jadi kita pakai metal detector dan secara fisik kita periksa anggota badan dan saku,” tuturnya.

Totok berharap para peserta menyiapkan diri agar bisa lolos ke tahapan SKB. Tes SKB juga menggunakan sistem CAT dan rencananya diselenggarakan pada akhir November. Bobot nilai SKD adalah 40 persen sementara bobot nilai tes SKB sebesar 60 persen. “Kalau harapan saya, kuota 331 CPNS itu terpenuhi. Karena kita dengan gedung baru, yang di jalan Medan Merdeka Selatan, dibutuhkan pegawai. Kita ke depan layanan direncanakankan sampai jam 10 malam, kalau saat ini kan sampai jam 6 sore,” urainya.

Sementara itu, Kepala BKN Bima Haria Wibisana menyatakan peserta seleksi CPNS mencapai 3,5 juta orang dengan 230 ribu formasi di pusat dan daerah. Untuk mendapatkan CPNS yang memiliki kompetensi memadai, tes SKD dinilai tepat menjadi tolak ukur. PNS yang berkualitas secara intelegensia, wawasan kebangsaan, dan memiliki karakteristik melayani sangat dibutuhkan untuk memenuhi tantangan 30 tahun mendatang, termasuk era industri 4.0 yang didominasi mesin dan otomatisasi. “Jadi antara keinginan smart ASN, dengan Indonesia 4.0 kan harus dipikirkan dari sekarang. Kalau sekarang yang dipilih jelek, 30 tahun mendatang akan lebih jelek kan,” urainya.

Menanggapi respons peserta tes SKD dari berbagai kementerian/lemabaga yang mengeluhkan sulitnya soal TKP, Bima Haria memiliki tips tersendiri. Menurutnya, peserta harus melakukan persiapan dengan matang. “Jadi soalnya memang didesain, peserta harus menyiapkan diri. Masalahnya, mereka hanya menyiapkan diri untuk TIU dan TWK. Karena TKP dianggap kan tidak perlu belajar. Padahal yang dinilai adalah value ketika dia menjadi PNS. Sebagai seorang PNS kan ada prioritasnya, jadi kalau dibilang jawabannya mirip-mirip semua, memang betul. Nah mungkin karena mereka tidak mempersiapkan untuk itu,” jelasnya.

Bima Haria menekankan, seorang PNS harus memiliki kemauan untuk melayani. Harus disadari bahwa profesi ini erat dengan pekerjaan yang melayani dan mengabdi kepada masyarakat. “Karenanya kalau kita tidak ada kemauan melayani orang, maka dia akan menjadi beban di dalam itu. Makanya TKP itu ingin melihat karakter seorang PNS yang melayani. Jadi kalau gak lolos TKP, maka talent-nya tidak untuk menjadi PNS,” pungkasnya.

 

Reportase: Hanna Meinita

 

  Virus-free. www.avg.com


Diunggah oleh admin (2018-11-12 09:36:18)